Siapa to yang nggak kenal sama tokoh wayang (punokawan) Semar??. Secara umum di suku jawa semua orang mengenal semar baik secara dalam maupun dangkal. Nah di sini saya mau mengulas sosok semar menurut saya sendiri yang dimana saya sudah membaca ulasan seorang semar dari berbagai sumber. Nah langsung saja disimak yaa. Semar adalah tokoh punokawan (abdi) yang selalu mendampingi ksatria yang berbudi baik. Mengenai asal usul Semar, Semar adalah pengejawantahan dari Dewa Ismaya kakak Batara Guru. Ismaya lahir bersama dua orang saudaranya yaitu Tejamantri dan Manikmaya.
Mula-mula ketiga bayi itu berwujud sebutir telur. Oleh Sang Hyang Tunggal, ayah mereka, telur itu dibanting hingga pecah, lalu menjadi tiga orang lelaki tampan. Yang berasal dari kulit dinamakan Tejamantri, yang berasal dari putih telur dinamakan Ismaya dan kuning telur dinamakan Manikmaya. Ketiganya berebut menjadi penguasa khayangan. Untuk menentukan siapa yang berhak, Sang Hyang Tunggal mengadakan sayembara. Barang siapa yang mampu menelan gunung dan memuntahkanya kemabali maka dialah yang berhak. Pada Giliran Ismaya (semar) awalnya ia bisa menelan gunung tapi ia tidak bisa memuntahkanya, sehingga badanya menjadi pendek dan gemuk. Sang Hyang Tunggal memerintahkan Ismaya (semar) turun ke dunia untuk menjadi pamong satria yang baik. Ksatria yang menjadi momongan pertamanya adalah Manumayasa yang kelak menurunkan/melahirkan pandawa. Mulai saat itulah Ismaya atau Semar atau Badranaya menjadi pamomong para ksatria yang berbudi luhur. Dikalangan para spiritual Jawa ,Tokoh Semar ternyata dipandang bukan hanya sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
• Bebadra = Membangun sarana dari dasar
• Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi
kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar bukan lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan
kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan
simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan
mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.
Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak
mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia
perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah
• Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
• Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
• Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
• Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
• Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan
yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya
kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai
dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika
artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh
hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai
oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing
kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji
budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan
hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Waaaw hebat…. Ternyata seperti itu leluhur kita membuat suatu karya seni, mereka punya makna dan arti di setiap bentuk yang mereka ciptakan. Benar-benar hebat karya mereka, karya mereka memang benar-benar berharga sangat-sangat tinggi. Kita sebagai generasi penerus hendaklah sadar bahwa warisan leluhur punya makna tersendiri yang perlu di genggam dari generasi ke generasi, jangan sampai karya sehebat itu di ambil oleh bangsa lain dengan mudahnya, kita harus pertahankan setulus hati, segenap jiwa dan raga, sambung menyambung dari nyawa ke nyawa BAHWA ITU ADALAH WARISAN LELUHUR KITA !!!! WAJIB KITA LESTARIKAN DAN DI PELIHARA DIRAWAT DENGAN SEBAIK-BAIKNYA !!!!

Komentar
Posting Komentar